Peledakan
Bahan peledak yang dimaksudkan adalah bahan peledak kimia yang didefinisikan sebagai suatu bahan kimia senyawa tunggal atau campuran berbentuk padat, cair, atau campurannya yang apabila diberi aksi panas, benturan, gesekan atau ledakan awal akan mengalami suatu reaksi kimia eksotermis sangat cepat dan hasil reaksinya sebagian atau seluruhnya berbentuk gas disertai panas dan tekanan sangat tinggi yang secara kimia lebih stabil.
Showing posts with label Fluida Pemboran. Show all posts
Showing posts with label Fluida Pemboran. Show all posts
Tuesday, April 15, 2014
Jenis – Jenis Lumpur Pemboran
Jenis – Jenis Lumpur Pemboran
ZABA dan DOHERTY (1970) mengklasifikasikan lumpur bor
terutama berdasarkan fasa fluidanya : air (water base), minyak (oil base) atau
gas, sebagai berikut :
Fresh Water Muds (lumpur air tawar)
Adalah lumpur yang fasa cairnya adalah air tawar dengan
(kalau ada) kadar garam yang kecil (kurang dari 10000 ppm = 1 % berat garam). Jenis-jenis
lumpur fresh water muds adalah : Spud Mud, Natural Mud, Bentonite – treated
mud, Phosphate treated mud, Organic colloid treated mud, “Red” mud, Calcium
mud, Lime treated mud, Gypsum treated mud dan Calcium salt.
a. Spud
Adalah lumpur yang digunakan pada pemboran awal atau bagian
atas bagi conductor casing. Fungsi utamanya adalah untuk mengangkat cutting dan
membuka lubang di permukaan.b. Natural atau Native (alamiah)
b. Natural Mud
Adalah Material dibentuk dari pecahan-pecahan cutting dalam
fasa cair, sifat-sifatnya bervariasi tergantung formasi yang di bor. Lumpur ini
digunakan untuk pemboran yang cepat seperti pemboran pada surface casing.
c. Bentonite – treated Mud
yaitu mencakup sebagian besar dari tipe-tipe air tawar.
Bentonite adalah material paling umum yang digunakan untuk koloid inorganic
yang berfungsi mengurangi filtrate loss dan mengurangi tebal mud cake.
Bentonite juga berperan untuk menaikkan viscositas.
d. Phospate treated Mud.
yaitu bahan mengandung polyphospate untuk mengontrol viscositas
gel strength dan juga dapat mengurangi filtrate loss serta mud cake sehingga
lapisan mud cake pada dinding bore hole akan menjadi tipis.
e. Organic colloid treated Mud
Material ini telah mengalami penambahan pregelatinized
starch atau carboxymethyl cellulose pada lumpur yang digunakan untuk mengurangi
filtration loss pada fresh water mud.
f. Red Mud
Yaitu material lumpur bor yang mendapatkan warnanya dari
warna yang dihasilkan oleh treatment dengan cautic soda dan gueobracho (merah
tua). Jenis lumpur ini adalah alkaline tannate treatment dengan penambahan
polyphospate untuk lumpur dengan pH dibawah 10.
g. Calcium Mud
Yaitu lumpur yang mengandung larutan calcium (di sengaja).
Calcium bisa ditambah dengan bentuk slake lime (kapur mati), semen, plaster
(CaSO4) atau CaCl2. “Red” atau alkaline – tannate treated
h. Salt Water Mud
Lumpur ini digunakan terutama untuk pengeboran garam massive
(salt dome) atau salt stringer (lapisan formasi garam) dan kadang-kadang bila
ada aliran air garam yang terbor. Filtrate loss-nya besar dan mud- cake-nya
tebal bila tidak ditambah organic colloid, pH lumpur dibawah 8, karena itu
perlu presentative untuk menahan fermentasi starch. Jika salt mud-nya mempunyai
pH yang lebih tinggi, fermentasi terhalang oleh basa. Suspensi ini bisa
diperbaiki dengan penggunaan attapulgite sebagai pengganti bentonite. Adapun
jenis-jenis lumpur salt water mud adalah : Unsaturated salt water mud, Saturated
salt- water mud dan Sodium-Silicate muds.
i.Oil Base Dan Oil Base Emulsion Mud
Lumpur ini mengandung minyak sebagai fasa kontinunya.
Komposisinya diatur agar kadar airnya rendah (antara 3 – 5% volume).Lumpur ini
relatif tidak sensitif terhadap kontaminan, tetapi airnya adalah kontaminan
karena memberi efek negatif bagi kestabilan lumpur ini. Untuk mengontrol
viskositas, menaikkan gel strength, mengurangi efek kontaminasi air dan mengurangi
filtrate loss, perlu ditambahkan zat-zat kimia sebagai bahan additive.
Manfaat oil base mud didasarkan pada kenyataan bahwa
filtratnya adalah minyak karena itu tidak akan menghidratkan shale atau clay
yang sensitif baik terhadap formasi maupun formasi produktif (jadi ia juga
berfungsi untuk completion mud). Kegunaan terbesar adalah pada completion dan
work-over sumur. Kegunaan lain adalah untuk melepaskan drillpipe yang terjepit,
mempermudah pemasangan casing dan liner. Oil base emulsion dan lumpur oil base
mempunyai minyak sebagai fasa kontinu dan air sebagai fasa tersebar. Umumnya
oil base emulsion
mud mempunyai manfaat yang sama seperti oil base-mud, yaitu
filtratnya minyak dan karena itu tidak menghidratkan shale/clay yang sensitif.
Perbedaan utamanya adlah bahwa air ditambahkan sebagai tambahan yang berguna
(bukan kontaminan). Air yang teremulsi dapat antara 15 – 50% volume, tergantung
densitas dan temperatur yang diinginkan (dihadapi dalam pemboran). Karena air
merupakan bagian dari lumpur, maka lumpur ini dapat mengurangi bahaya api, dan
pengontrolan flow propertinya dapat seperti water base mud.
j. Gaseous Drilling Fluid
Digunakan untuk daerah-daerah dengan formasi keras dan
kering. Dengan gas atau udara dipompakan pada annulus, salurannya tidak boleh
bocor. Keuntungan cara ini adalah penetration rate lebih besar, tetapi adanya
formasi air dapat menyebabkan bit balling (bit dilapisi cutting/padatan) yang merugikan.
Juga tekanan formasi yang besar tidak membenarkan digunakannya cara ini.
Penggunaan natural gas membutuhkan pengawasan yang ketat pada bahaya api. Lumpur
ini juga baik untuk completion pada zone-zone dengan tekanan rendah. Suatu cara
pertengahan antara lumpur cair dengan gas adalah aerated mud drilling dimana
sejumlah besar udara (lebih dari 95%) ditekan pada sirkulasi lumpur untuk
memperendah tekanan hidrostatik (untuk lost circulation zone), mempercepat
pemboran dan mengurangi biaya pemboran.
Komponen Fluida Pemboran
Lumpur Pemboran
Secara umum, lumpur pemboran dapat dikelompokkan atas 4 (empat)
komponen atau fasa, yaitu:
1. Fasa cair (air atau minyak)
Fasa cair lumpur pemboran pada
umumnya dapat berupa air, minyak, atau campuran air dan minyak. Air yang
digunakan dalam pencampuran lumpur dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu air tawar
dan air asin. Sedangkan air asin itu sendiri juga dapat dikelompokkan lagi
menjadi dua jenis, yaitu: air asin tidak jenuh dan air asin jenuh.
Sekitar 75% lumpur pemboran
menggunakan campuran air. Hal ini dilakukan karena air mudah didapat, murah,
mudah dikontrol jika terdapat padatan-padatan yang terlarut (solid content) dan
merupakan fluida yang paling baik sebagai media penilaian formasi. Karena bahan
pencampuran lumpur pemboran ini sebagian besar menggunakan air, maka lumpur
pemboran ini dinamakan water – base muds. Apabila lumpur pemboran menggunakan
minyak sebagai bahan pencampur lebih dari 95%, maka lumpur pemboran ini dinamakan
oil – base muds. Sedangkan emulsion muds mempunyai komposisi minyak 50 -70%
(sebagai fasa kontinyu) dan air 30 - 50% (sebagai fasa diskontinyu).
2. Reactive Solids
Yaitu padatan yang dapat bereaksi dengan air membentuk
koloid (contoh bahannya adalah clay). Dalam hal ini clay air tawar seperti
bentonite dan clay air asin seperti attapulgite dapat mengisap (absorb) air dan
kemudian membentuk lumpur. Clay adalah padatan yang berukuran halus.
Partikelnya bermuatan listrik dan mampu menyerap air serta memiliki sifat yang
dapat mengembang bila terkena air. Peristiwa mengembangnya clay ini disebut
dengan swelling clay.
Clay (memiliki sifat low-gravity reactive solid) ditambahkan
ke dalam air agar diperoleh sifat-sifat fisik seperti viskositas dan yield
point yang diperlukan untuk mengangkat cutting atau untuk menjaga agar cutting
tidak mengendap pada saat tidak ada sirkulasi.
3. Inert Solids (zat padat yang tak bereaksi)
Bahan inert solid dapat
berupa Barite (BaSO4) yang digunakan untuk menaikkan densitas lumpur. Selain
itu, Barite bisa didapatkan atau berasal dari formasi-formasi yang dibor dan
terbawa lumpur, seperti chert, pasir atau clay, clay non swelling, sehingga
akan menyebabkan abrasi atau kerusakan pompa.
4. Fasa Kimia (additive)
Fasa ini erupakan bagian dari system yang digunakan untuk
mengontrol sifat-sifat lumpur, misalnya dalam dispersi (menyebarkan
partikel-partikel clay) atau flokolasi (pengumpulan partikel-partikel clay),
menrunkan viskositas, mengurangi water lose. Efek dari pemberian bahan additive
ini adalah untuk peng „koloid‟ an clay yang bersangkutan. Zat-zat kimia yang
mendispersi (menurunkan viskositas/mengencerkan) contohnya adalah: Quebracho, phosphate,
sodium tannate, surfactant, dll. Sedangkan zat-zat kimia untuk menaikkan
viskositas, contohnya adalah : C.M.C, starch, dan beberapa senyawa polimer
Fluida Pemboran
Lumpur Pemboran
Lumpur pemboran diperkenalkan pertama kali dalam pemboran putar
pada sekitar awal tahun 1900. Pada mulanya orang hanya menggunakan air untuk
mengangkat serbuk hasil pemboran (cutting) secara kontinyu. Kemudian dengan
berkembangnya teknologi pemboran, lumpur mulai digunakan dan fungsi lumpur
menjadi semakin komplek. Seangkan untuk memperbaiki sifat-sifat lumpur tersebut,
saat ini banyak ditambahkan bahan-bahan kimia (sebagai bahan additive).
Lumpur pemboran merupakan faktor yang sangat penting dalam
menjalankan sebuah operasi pemboran. Hal ini sangat penting karena akan
mempengaruhi kelancaran, kecepatan pemboran, efisiensi, keselamatan dan pembiayaan
pemboran tersebut.
Dalam kegiatan pemboran ada beberapa parameter yang terdapat
di
dalam lumpur bor yang perlu di analisis. Diantaranya adalah:
1. Pengaruh penambahan zat additive di dalam lumpur bor
2. Adanya kontaminasi pada lumpur pemboran
3. Densitas
4. Viskositas
5. Gel Strength
6. Kadar minyak
7. Kadar padatan
8. Filtrate loss
9. Ketebalan mud cake
10. Komposisi kimia
11. Kapasitas tukar kation
Subscribe to:
Posts (Atom)













