Pages

Batubara

Batu bara adalah salah satu bahan bakar fosil,umumnya adalah batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik, utamanya adalah sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk melalui proses pembatubaraan. Unsur-unsur utamanya terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen.

Air Asam Tambang

Air Asam Tambang merupakan istilah yang digunakan untuk merujuk pada air asam yang timbul akibat kegiatan penambangan. Hal ini untuk membedakan dengan air asam yang timbul oleh kegiatan lain, seperti penggalian untuk pembangunan pondasi bangunan, pembuatan tambak, dan sebagainya.

Peledakan

Bahan peledak yang dimaksudkan adalah bahan peledak kimia yang didefinisikan sebagai suatu bahan kimia senyawa tunggal atau campuran berbentuk padat, cair, atau campurannya yang apabila diberi aksi panas, benturan, gesekan atau ledakan awal akan mengalami suatu reaksi kimia eksotermis sangat cepat dan hasil reaksinya sebagian atau seluruhnya berbentuk gas disertai panas dan tekanan sangat tinggi yang secara kimia lebih stabil.

Mineral

Mineral merupakan suatu benda padat homogen yang terdapat di alam, terbentuk secara anorganik, dengan komposisi kimia dan batas tertentu dan memiliki susunan atom tertentu secara teratur.

Emas

Emas merupakan logam yang bersifat lunak dan mudah ditempa, kekerasannya berkisar antara 2,5 – 3 (skala Mohs), serta berat jenisnya tergantung pada jenis dan kandungan logam lain yang berpadu dengannya. Mineral pembawa emas biasanya berasosiasi dengan mineral ikutan (gangue minerals).

Showing posts with label Pemboran. Show all posts
Showing posts with label Pemboran. Show all posts

Tuesday, April 15, 2014

Jenis – Jenis Lumpur Pemboran

Jenis – Jenis Lumpur Pemboran
ZABA dan DOHERTY (1970) mengklasifikasikan lumpur bor terutama berdasarkan fasa fluidanya : air (water base), minyak (oil base) atau gas, sebagai berikut :
Fresh Water Muds (lumpur air tawar)
Adalah lumpur yang fasa cairnya adalah air tawar dengan (kalau ada) kadar garam yang kecil (kurang dari 10000 ppm = 1 % berat garam). Jenis-jenis lumpur fresh water muds adalah : Spud Mud, Natural Mud, Bentonite – treated mud, Phosphate treated mud, Organic colloid treated mud, “Red” mud, Calcium mud, Lime treated mud, Gypsum treated mud dan Calcium salt.

a. Spud
Adalah lumpur yang digunakan pada pemboran awal atau bagian atas bagi conductor casing. Fungsi utamanya adalah untuk mengangkat cutting dan membuka lubang di permukaan.b. Natural atau Native (alamiah)

b. Natural Mud
Adalah Material dibentuk dari pecahan-pecahan cutting dalam fasa cair, sifat-sifatnya bervariasi tergantung formasi yang di bor. Lumpur ini digunakan untuk pemboran yang cepat seperti pemboran pada surface casing.

c. Bentonite – treated Mud
yaitu mencakup sebagian besar dari tipe-tipe air tawar. Bentonite adalah material paling umum yang digunakan untuk koloid inorganic yang berfungsi mengurangi filtrate loss dan mengurangi tebal mud cake. Bentonite juga berperan untuk menaikkan viscositas.

d. Phospate treated Mud.
yaitu bahan mengandung polyphospate untuk mengontrol viscositas gel strength dan juga dapat mengurangi filtrate loss serta mud cake sehingga lapisan mud cake pada dinding bore hole akan menjadi tipis.

e. Organic colloid treated Mud
Material ini telah mengalami penambahan pregelatinized starch atau carboxymethyl cellulose pada lumpur yang digunakan untuk mengurangi filtration loss pada fresh water mud.

f. Red Mud
Yaitu material lumpur bor yang mendapatkan warnanya dari warna yang dihasilkan oleh treatment dengan cautic soda dan gueobracho (merah tua). Jenis lumpur ini adalah alkaline tannate treatment dengan penambahan polyphospate untuk lumpur dengan pH dibawah 10.

g. Calcium Mud
Yaitu lumpur yang mengandung larutan calcium (di sengaja). Calcium bisa ditambah dengan bentuk slake lime (kapur mati), semen, plaster (CaSO4) atau CaCl2. “Red” atau alkaline – tannate treated

h. Salt Water Mud
Lumpur ini digunakan terutama untuk pengeboran garam massive (salt dome) atau salt stringer (lapisan formasi garam) dan kadang-kadang bila ada aliran air garam yang terbor. Filtrate loss-nya besar dan mud- cake-nya tebal bila tidak ditambah organic colloid, pH lumpur dibawah 8, karena itu perlu presentative untuk menahan fermentasi starch. Jika salt mud-nya mempunyai pH yang lebih tinggi, fermentasi terhalang oleh basa. Suspensi ini bisa diperbaiki dengan penggunaan attapulgite sebagai pengganti bentonite. Adapun jenis-jenis lumpur salt water mud adalah : Unsaturated salt water mud, Saturated salt- water mud dan Sodium-Silicate muds.

i.Oil Base Dan Oil Base Emulsion Mud
Lumpur ini mengandung minyak sebagai fasa kontinunya. Komposisinya diatur agar kadar airnya rendah (antara 3 – 5% volume).Lumpur ini relatif tidak sensitif terhadap kontaminan, tetapi airnya adalah kontaminan karena memberi efek negatif bagi kestabilan lumpur ini. Untuk mengontrol viskositas, menaikkan gel strength, mengurangi efek kontaminasi air dan mengurangi filtrate loss, perlu ditambahkan zat-zat kimia sebagai bahan additive.
Manfaat oil base mud didasarkan pada kenyataan bahwa filtratnya adalah minyak karena itu tidak akan menghidratkan shale atau clay yang sensitif baik terhadap formasi maupun formasi produktif (jadi ia juga berfungsi untuk completion mud). Kegunaan terbesar adalah pada completion dan work-over sumur. Kegunaan lain adalah untuk melepaskan drillpipe yang terjepit, mempermudah pemasangan casing dan liner.  Oil base emulsion dan lumpur oil base mempunyai minyak sebagai fasa kontinu dan air sebagai fasa tersebar. Umumnya oil base emulsion
mud mempunyai manfaat yang sama seperti oil base-mud, yaitu filtratnya minyak dan karena itu tidak menghidratkan shale/clay yang sensitif. Perbedaan utamanya adlah bahwa air ditambahkan sebagai tambahan yang berguna (bukan kontaminan). Air yang teremulsi dapat antara 15 – 50% volume, tergantung densitas dan temperatur yang diinginkan (dihadapi dalam pemboran). Karena air merupakan bagian dari lumpur, maka lumpur ini dapat mengurangi bahaya api, dan pengontrolan flow propertinya dapat seperti water base mud.

j. Gaseous Drilling Fluid
Digunakan untuk daerah-daerah dengan formasi keras dan kering. Dengan gas atau udara dipompakan pada annulus, salurannya tidak boleh bocor. Keuntungan cara ini adalah penetration rate lebih besar, tetapi adanya formasi air dapat menyebabkan bit balling (bit dilapisi cutting/padatan) yang merugikan. Juga tekanan formasi yang besar tidak membenarkan digunakannya cara ini. Penggunaan natural gas membutuhkan pengawasan yang ketat pada bahaya api. Lumpur ini juga baik untuk completion pada zone-zone dengan tekanan rendah. Suatu cara pertengahan antara lumpur cair dengan gas adalah aerated mud drilling dimana sejumlah besar udara (lebih dari 95%) ditekan pada sirkulasi lumpur untuk memperendah tekanan hidrostatik (untuk lost circulation zone), mempercepat pemboran dan mengurangi biaya pemboran.

Komponen Fluida Pemboran


Lumpur Pemboran
Secara umum, lumpur pemboran dapat dikelompokkan atas 4 (empat) komponen atau fasa, yaitu:
1.  Fasa cair (air atau minyak)
Fasa cair lumpur pemboran pada umumnya dapat berupa air, minyak, atau campuran air dan minyak. Air yang digunakan dalam pencampuran lumpur dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu air tawar dan air asin. Sedangkan air asin itu sendiri juga dapat dikelompokkan lagi menjadi dua jenis, yaitu: air asin tidak jenuh dan air asin jenuh.
Sekitar 75% lumpur pemboran menggunakan campuran air. Hal ini dilakukan karena air mudah didapat, murah, mudah dikontrol jika terdapat padatan-padatan yang terlarut (solid content) dan merupakan fluida yang paling baik sebagai media penilaian formasi. Karena bahan pencampuran lumpur pemboran ini sebagian besar menggunakan air, maka lumpur pemboran ini dinamakan water – base muds. Apabila lumpur pemboran menggunakan minyak sebagai bahan pencampur lebih dari 95%, maka lumpur pemboran ini dinamakan oil – base muds. Sedangkan emulsion muds mempunyai komposisi minyak 50 -70% (sebagai fasa kontinyu) dan air 30 - 50% (sebagai fasa diskontinyu).

2.  Reactive Solids
Yaitu padatan yang dapat bereaksi dengan air membentuk koloid (contoh bahannya adalah clay). Dalam hal ini clay air tawar seperti bentonite dan clay air asin seperti attapulgite dapat mengisap (absorb) air dan kemudian membentuk lumpur. Clay adalah padatan yang berukuran halus. Partikelnya bermuatan listrik dan mampu menyerap air serta memiliki sifat yang dapat mengembang bila terkena air. Peristiwa mengembangnya clay ini disebut dengan swelling clay.
Clay (memiliki sifat low-gravity reactive solid) ditambahkan ke dalam air agar diperoleh sifat-sifat fisik seperti viskositas dan yield point yang diperlukan untuk mengangkat cutting atau untuk menjaga agar cutting tidak mengendap pada saat tidak ada sirkulasi.

3.  Inert Solids (zat padat yang tak bereaksi) 
Bahan inert solid dapat berupa Barite (BaSO4) yang digunakan untuk menaikkan densitas lumpur. Selain itu, Barite bisa didapatkan atau berasal dari formasi-formasi yang dibor dan terbawa lumpur, seperti chert, pasir atau clay, clay non swelling, sehingga akan menyebabkan abrasi atau kerusakan pompa.

4.  Fasa Kimia (additive)
Fasa ini erupakan bagian dari system yang digunakan untuk mengontrol sifat-sifat lumpur, misalnya dalam dispersi (menyebarkan partikel-partikel clay) atau flokolasi (pengumpulan partikel-partikel clay), menrunkan viskositas, mengurangi water lose. Efek dari pemberian bahan additive ini adalah untuk peng „koloid‟ an clay yang bersangkutan. Zat-zat kimia yang mendispersi (menurunkan viskositas/mengencerkan) contohnya adalah: Quebracho, phosphate, sodium tannate, surfactant, dll. Sedangkan zat-zat kimia untuk menaikkan viskositas, contohnya adalah : C.M.C, starch, dan beberapa senyawa polimer



Fluida Pemboran


Lumpur Pemboran

Lumpur pemboran diperkenalkan pertama kali dalam pemboran putar pada sekitar awal tahun 1900. Pada mulanya orang hanya menggunakan air untuk mengangkat serbuk hasil pemboran (cutting) secara kontinyu. Kemudian dengan berkembangnya teknologi pemboran, lumpur mulai digunakan dan fungsi lumpur menjadi semakin komplek. Seangkan untuk memperbaiki sifat-sifat lumpur tersebut, saat ini banyak ditambahkan bahan-bahan kimia (sebagai bahan additive).

Lumpur pemboran merupakan faktor yang sangat penting dalam menjalankan sebuah operasi pemboran. Hal ini sangat penting karena akan mempengaruhi kelancaran, kecepatan pemboran, efisiensi, keselamatan dan pembiayaan pemboran tersebut.
Dalam kegiatan pemboran ada beberapa parameter yang terdapat di
dalam lumpur bor yang perlu di analisis. Diantaranya adalah:
1. Pengaruh penambahan zat additive di dalam lumpur bor
2. Adanya kontaminasi pada lumpur pemboran
3. Densitas
4. Viskositas
5. Gel Strength
6. Kadar minyak
7. Kadar padatan
8. Filtrate loss
9. Ketebalan mud cake
10. Komposisi kimia
11. Kapasitas tukar kation

Teknik Pemboran Dengan Metode Rotary Drilling


Metode Rotary Drilling
Teknik pemboran dengan metode Rotary Drilling dapat
dikelompokkan kedalam 4 (empat) metode yaitu:

1. Metode putar dengan sistem sirkulasi langsung (Direct CirculationRotary Methods)

Prinsip kerja dari teknik pemboran ini adalah memanfaatkan momen putar yang berasal dari drill string (stang bor) yang dihubungkan dengan prime over melalui gear reduction system.
Pada Down Hole system yang ujungnya dipasang mata bor (drilling bit) akan berputar di dalam lubang bor dan mendapat tekanan dari drill rod. Akibat gesekan dan tumbukan mata bor dengan batuan, akan terbentuk potongan-potongan batuan yang berukuran kecil yang disebut dengan serbuk pemboran atau cutting.
Lumpur bor yang terdiri dari materials bentonite water base atau oil base, keluar melalui mata bor dan selanjutnya ke permukaan melalui annulus lubang bor sambil membawa partikel hasil pemboran (cutting) ke permukaan.
Sesampainya di Mud DrillingTank, partikel yang di bawa dari dasar sumur akan diendapkan, dan selanjutnya lumpur bor dimasukkan lagi melalui pompa Lumpur (mud pump).

2. Metode Putar Dengan Udara (Air Rotary Methods)

Prinsip kerja dari Air Rotary Methods hampir sama dengan metode Direct Rotary Methods. Bedanya hanya terletak pada fungsi lumpur pemborannya. Pada metode Direct Rotary Methods lumpur bor diganti dengan angin dari kompresor. Metode ini biasanya dilakukan untuk pengeboran pada batuan keras atau pada pekerjaan pemboran untuk proses peledakan dinamit atau pada pekerjaan pertambangan.

3. Metode Tumbuk Dengan Putaran Udara (Air Rotary Percussion Methods)

Metode ini merupakan kombinasi dari Air Rotary Methods dengan teknik percussion. Untuk mengangkat drill cutting dari dalam lubang bor ke permukaan mengunakan tekanan angin dari kompresor. Sedangkan untuk menumbuk batuan pada saat pemboran menggunakan pneumatic hammer yang berputar dengan jumlah impact antara 10 – 15 tumbukan per detik.

4. Metode Putar Dengan Sirkulasi Terbalik (Reverse Circulation Rotary Methods)

Metode ini sama dengan metode direct rotary. Metode ini khusus digunakan untuk pengeboran dengan diameter besar minimum 40– 1,8 meter dengan kondisi batuan yang unconsolidated. Degan metoda ini, Lumpur dari annulus lubang bor dipompa keluar dengan bantuan pompa lain sehingga permukaan lumpur selalu berada di level permukaan tanah. Dengan demikian, kemungkinan terjadi runtuhan pada dinding sumur bor pada saat pemboran dilakukan akan dapat diperkecil. Kapasitas pemompaan (kecepatan aliran di dalam pipa stang bor harus sekitar 2 m/sec.).

Saturday, April 12, 2014

Pemboran Putar (Rotary Drilling)

Teknik pemboran dengan metode Rotary Drilling dapat  dikelompokkan kedalam 4 (empat) metode yaitu: 

1. Metode Putar Dengan Sistem Sirkulasi Langsung (Direct Circulation Rotary Methods)
   Prinsip kerja dari teknik pemboran ini adalah memanfaatkan momen putar yang berasal dari drill string (stang bor) yang dihubungkan dengan prime over melalui gear reduction system. Pada Down Hole system yang ujungnya dipasang mata bor (drilling bit) akan berputar di dalam lubang bor dan mendapat tekanan dari drill rod. Akibat gesekan dan tumbukan mata bor dengan batuan, akan terbentuk potongan-potongan batuan yang berukuran kecil yang disebut dengan serbuk pemboran atau cutting
   Lumpur bor yang terdiri dari materials bentonite water base atau oil base, keluar melalui mata bor dan selanjutnya ke permukaan melalui annulus lubang bor sambil membawa partikel hasil pemboran (cutting) ke permukaan. Sesampainya di Mud DrillingTank, partikel yang di bawa dari dasar sumur akan diendapkan, dan selanjutnya lumpur bor dimasukkan lagi melalui pompa Lumpur (mud pump).

2. Metode Putar Dengan Udara (Air Rotary Methods)
   Prinsip kerja dari Air Rotary Methods hampir sama dengan metode Direct Rotary Methods. Bedanya hanya terletak pada fungsi lumpur pemborannya. Pada metode Direct Rotary Methods lumpur bor
diganti dengan angin dari kompresor. Metode ini biasanya dilakukan untuk pengeboran pada batuan keras atau pada pekerjaan pemboran untuk proses peledakan dinamit atau pada pekerjaan
pertambangan.

3. Metode Tumbuk Dengan Putaran Udara (Air Rotary Percussion Methods)
    Metode ini merupakan kombinasi dari Air Rotary Methods dengan teknik percussion. Untuk mengangkat drill cutting dari dalam lubang bor ke permukaan mengunakan tekanan angin dari kompresor.
Sedangkan untuk menumbuk batuan pada saat pemboran menggunakan pneumatic hammer yang berputar dengan jumlah impact antara 10 – 15 tumbukan per detik. 

4. Metode Putar Dengan Sirkulasi Terbalik (Reverse Circulation Rotary Methods)
    Metode ini sama dengan metode direct rotary. Metode ini khusus digunakan untuk pengeboran dengan diameter besar minimum 40 – 1,8 meter dengan kondisi batuan yang unconsolidated. Degan metoda ini, Lumpur dari annulus lubang bor dipompa keluar dengan bantuan pompa lain sehingga permukaan lumpur selalu berada di level permukaan tanah. Dengan demikian, kemungkinan terjadi runtuhan pada dinding sumur bor pada saat pemboran dilakukan akan dapat diperkecil. Kapasitas pemompaan (kecepatan
aliran di dalam pipa stang bor harus sekitar 2 m/sec.).

Metoda Pemboran tumbuk (Cable Tool Drilling atau Percussive Drilling)

Metoda Pemboran tumbuk (Cable Tool Drilling atau Percussive Drilling)
Dioperasikan dengan cara mengangkat dan menjatuhkan alat bor secara berulang-ulang ke dlam lubang bor sehingga lubang bor terbentuk akibat mekanisme tumbukan dan beban rangkaian bor


Keunggulan mesin bor tumbuk dibandingkan dengan mesin bor putar antara lain:
1. Lebih ekonomis (Harga murah, biaya operasi rendah, biaya transportasi murah dan persiapan rig dapat dilakukan dengan cepat
2. Menghasilkan contoh pemboran yang lebih baik
3. Lebih mempermudah pengenalan lokasi
4. Tanpa sistem sirkulasi
5. Kemungkinan kontaminasi karena proses pemboran relatif kecil 

Sedangkan keterbatasan mesin bor tumbuk dibandingkan dengan mesin bor putar antara lain:
1. ROP (Rate of Pnetration/laju pemboran) sangat rendah 
2. Sling cable tool sering putus

Teknik Pemboran Dengan Fluida

Sebagian besar pengeboran menggunakan bantuan fluida untuk penetrasi lapisan –lapisan batuan, penanganan cutting, pengambilan sampel, menjaga stabilitas bore hole dan untuk mendinginkan mata bor (drilling bit).
Contoh aplikasi metode pemboran berdasarkan mekanismenya,  metode pemboran dengan fluida dapat dibagi menjadi:
1.Metode pemboran tumbuk(Cable Tool Drilling atau Percussive Drilling)
2.Pemboran putar(Rotary Drilling)
3.Bo rputar hidrolik(Hydraulic Rotary)

Jenis Jenis Mesin Bor

Mesin Bor yang digunakan untuk keperluan pekerjaan pemboran, semua peralatannya sudah dirangkai menjadi satu kesatuan yang disebut drilling rig. Sebuah drilling rig dirancang sesuai dengan kemapuannya, sudah mempunyai spesifikasi tertentu. Seperti besarnya torque maksimum yang dapat dihasilkan (Newton-M), daya angkat (Lifting Forces) dalam ton, seperti :

Truck Mounted 
Truck Mounted merupakan suatu sistim bor yang telah dibangun di atas kenderaan truk dan setiap bagiannya tidak dapat diubah-ubah atau dipindahkan dari kenderaan truk tersebut. Sistem mesin bor seperti ini biasanya dipergunakan untuk daerah-daerah yang dapat dicapai oleh kenderaan berat, karena jenis inimempunyai berat rata-rata diatas 15 ton. Sistem bor seperti ini tidak dapat dipergunakan di daerah yang tidak mempunyai akses jalan yang baik.

Keutamaan pemakaian peralatan mesin bor jenis Truck Mounted ini adalah : 
1. Cepat dalam Rigging Up/Rigging Down Work 
2. Tidak membutuhkan tenaga operator yang banyak. 
3. Cepat dalam mobilisasi maupun demobilisasi. 
Sedangkan kekurangannya adalah: 
1. Investasi sangat mahal (± 500.000 US$) 
2. Biaya operasional pada remote area sangat besar. Terutama untuk membuat fasilitas jalan. 3. Biaya operasional tinggi.

Track Mounted 
Sistem pemboran jenis ini biasanya dipakai untuk daerah-daerah yang terisolasi ataupun belum ada existing road. Biasanya dipakai dalam pemboran eksplorasi di lokasi- lokasi rencana pembangunan infrastruktur, seperti ladang minyak, pembangunan komplek industri perminyakan dan lain-lain. Sistem bor seperti ini jarang dipergunakan, karena memerlukan pengadaan alat dan biaya pengangkutan yang sangat besar.



Rotary Truck Mounted 
Sistem pemboran jenis ini menggunakan Kelly sebagai pasak pemutar di rotary system-nya. Down Hole system turun dengan beban beratnya sendiri dan banyak dipergunakan di dalam pengeboran minyak bumi 





Skid Mounted
Skid mounted adalah suatu jenis mesin bor yang sangat fleksibel penggunannya dan dapat digunakan baik untuk eksplorasi mineral, sumur bor panas bumi, sumur bor air, pekerjaan pondasi teknik sipil dan lain-lainnya. Selain itu, mesin bor jenis ini penggunaannya dapat dikombinasi baik di atas truck ataupun track, ataupun d iatas bantalan rel sehingga dapat berjalan dengan sendirinya di medan sulit yang tidak

Aplikasi Pekerjaan Pengeboran

Dengan perkembangan teknologi, baik dari segi teknis maupun aplikasinya, kegiatan pemboranpun ikut berkembang dan setidaknya telah di pergunakan ke dalam 8 (delapan) sektor industri.

Geoteknik 
Pengeboran Geoteknik bertujuan untuk menentukan karakteristik tanah dan batuan . Dalam beberapa hal digunakan untuk memperoleh informasi tentang kondisi alami dan posisi muka air tanah.

Konstruksi
Pemboran konstruksi digunakan untuk menentukan batas antara batuan dasar (basemaent) dan batuan di atasnya yang umumnya sudah mengalami deformasi pelapukan

Eksplorasi Mineral 
Untuk mencari cebakan mineral, menentukan kualitas mineral secara ekonomis, Eksplorasi tubuh bijih, informasi stratigrafi, survey seismik, verifikasi interpretasi geofisika dan geokimia, kontrol kadar bijih, perhitungan cadangan bijih, deskripsi tubuh bijih (penyebaran, bentuk, butir penyusun, dll) 

Seismik
Pengeboran dalam kegiatan survey seismik berguna untuk menempatkan bahan peledak sebagai sumber getaran dalam seismik refraksi maupun refleksi.

Peledakan 
Digunakan untuk menempatkan bahan peledak sebagai salah satu proses untuk memberaikan/menghancurkan material yang kompak

Sumur Airtanah 
Pengeboran dalam pembuatan sumur airtanah, brtujuan untuk membuat lubang untuk mendapatkan posisi akifer dan memproduksi airtanah, mengetahui posisi muka airtanah, memonitor sumur produksi, smur injeksi, sumur dewatering di dalam tambang dan konstruksi. 

Lingkungan 
Pemboran lingkungan terdiri dari pengeboran geoteknik dan sumur airtanah untuk memonitor kualitas airtanah dan membantu dalam kontrol/remediasi polusi airtanah.


Minyak dan Gas 
Pemboran dalam industri minyak dan gas bertujuan untuk eksplorasi minyak dan gas baik onshore maupun di offshore, sumur injeksi dan sumur produksi minyak dan gas.

Sejarah Perkembanagn Teknologi Pemboran


Bangsa Cina sudah mengembangkan teknik Pemboran dengan metodaCable tool, sebelum tahun1898. Menggunakan peralatan seadanya pada zamannya. Dan pada masa itu bangsa Cina sudah berhasil melakukan pemboran dalam (deep well) Instalasi pemboran dalam (deep well) atau pemipaan (piping) di Cina dengan menggunakan percussion device dan dibantu dengan tenaga hewan (Kudaataukerbau). Denganmetodeini,  untuk mencapai hingga kedalaman 1000 m, Bangsa Cina membutuhkan waktu selama 2 –5 tahun.
Dengan berkembangnya pemikiran, orang mencoba mencari metode untuk mempermudah peruses pengeboran. Salah satu metode yang ditemukan saat itu adalah dengan mengguakan pesawat sederhana atau tuas.Pada tahun1895,  teknologi pemboran sudah mulai berkembang pesat di Eropa. C.A. (Charley) Jenks  pertamakali membentuk “Jenks Water Well Service” di West Edmond,  dimana proses pemboran dengan metoda Cable tool, menggunakan tenaga mesian uap sebagai penggerak dalam proses pemboran
  • Pada tahun 1908, Charley terus mengembang metode pemboran metode cable  tool dengan kombinasi metode Steam Driven drill diOklahoma, AmerikaSerikat.
  • Pada tahun1942, Charley mengembangkan model mesin bor dengan sistem cable tool rig diStillwater Oklahoma dan dipakai pertamakali untuk kepentingan ilmu pengetahuan pada sebuah perguruan tinggi di dekat AmerikaSerikat.
  • Tahun 1948, untuk memudahkan mobilisasi mesin bor, Ted dan Leslie mengembangkan mesin bor dengan model truck mounted. Model mesin bor ini dikenal dengan nama Sullivan mud rotary.
  • Pada tahun 1949, dikembangkan model mesin bor yang diber nama Ft. Worth Spudder cable tool rig. Mesin bor ini digunakan south of Guthrie, Oklahoma
  • Padatahun 1955, Mesin bor dengan system Cable tool dikembangkan dengan ukuran dan kapasitas yang lebih besar yang diberinama Homebuilt drilling rig yang dibuatolehC.A.'s son Albert. diGuthrie, Oklahoma.
  • Hingga tahun 1970, mesin bor dengan sistem cable tool terus dikembangkan dan diberinama Mayhew 1000 mud rotary.