Pages

Batubara

Batu bara adalah salah satu bahan bakar fosil,umumnya adalah batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik, utamanya adalah sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk melalui proses pembatubaraan. Unsur-unsur utamanya terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen.

Air Asam Tambang

Air Asam Tambang merupakan istilah yang digunakan untuk merujuk pada air asam yang timbul akibat kegiatan penambangan. Hal ini untuk membedakan dengan air asam yang timbul oleh kegiatan lain, seperti penggalian untuk pembangunan pondasi bangunan, pembuatan tambak, dan sebagainya.

Peledakan

Bahan peledak yang dimaksudkan adalah bahan peledak kimia yang didefinisikan sebagai suatu bahan kimia senyawa tunggal atau campuran berbentuk padat, cair, atau campurannya yang apabila diberi aksi panas, benturan, gesekan atau ledakan awal akan mengalami suatu reaksi kimia eksotermis sangat cepat dan hasil reaksinya sebagian atau seluruhnya berbentuk gas disertai panas dan tekanan sangat tinggi yang secara kimia lebih stabil.

Mineral

Mineral merupakan suatu benda padat homogen yang terdapat di alam, terbentuk secara anorganik, dengan komposisi kimia dan batas tertentu dan memiliki susunan atom tertentu secara teratur.

Emas

Emas merupakan logam yang bersifat lunak dan mudah ditempa, kekerasannya berkisar antara 2,5 – 3 (skala Mohs), serta berat jenisnya tergantung pada jenis dan kandungan logam lain yang berpadu dengannya. Mineral pembawa emas biasanya berasosiasi dengan mineral ikutan (gangue minerals).

Tuesday, April 15, 2014

Komponen Fluida Pemboran


Lumpur Pemboran
Secara umum, lumpur pemboran dapat dikelompokkan atas 4 (empat) komponen atau fasa, yaitu:
1.  Fasa cair (air atau minyak)
Fasa cair lumpur pemboran pada umumnya dapat berupa air, minyak, atau campuran air dan minyak. Air yang digunakan dalam pencampuran lumpur dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu air tawar dan air asin. Sedangkan air asin itu sendiri juga dapat dikelompokkan lagi menjadi dua jenis, yaitu: air asin tidak jenuh dan air asin jenuh.
Sekitar 75% lumpur pemboran menggunakan campuran air. Hal ini dilakukan karena air mudah didapat, murah, mudah dikontrol jika terdapat padatan-padatan yang terlarut (solid content) dan merupakan fluida yang paling baik sebagai media penilaian formasi. Karena bahan pencampuran lumpur pemboran ini sebagian besar menggunakan air, maka lumpur pemboran ini dinamakan water – base muds. Apabila lumpur pemboran menggunakan minyak sebagai bahan pencampur lebih dari 95%, maka lumpur pemboran ini dinamakan oil – base muds. Sedangkan emulsion muds mempunyai komposisi minyak 50 -70% (sebagai fasa kontinyu) dan air 30 - 50% (sebagai fasa diskontinyu).

2.  Reactive Solids
Yaitu padatan yang dapat bereaksi dengan air membentuk koloid (contoh bahannya adalah clay). Dalam hal ini clay air tawar seperti bentonite dan clay air asin seperti attapulgite dapat mengisap (absorb) air dan kemudian membentuk lumpur. Clay adalah padatan yang berukuran halus. Partikelnya bermuatan listrik dan mampu menyerap air serta memiliki sifat yang dapat mengembang bila terkena air. Peristiwa mengembangnya clay ini disebut dengan swelling clay.
Clay (memiliki sifat low-gravity reactive solid) ditambahkan ke dalam air agar diperoleh sifat-sifat fisik seperti viskositas dan yield point yang diperlukan untuk mengangkat cutting atau untuk menjaga agar cutting tidak mengendap pada saat tidak ada sirkulasi.

3.  Inert Solids (zat padat yang tak bereaksi) 
Bahan inert solid dapat berupa Barite (BaSO4) yang digunakan untuk menaikkan densitas lumpur. Selain itu, Barite bisa didapatkan atau berasal dari formasi-formasi yang dibor dan terbawa lumpur, seperti chert, pasir atau clay, clay non swelling, sehingga akan menyebabkan abrasi atau kerusakan pompa.

4.  Fasa Kimia (additive)
Fasa ini erupakan bagian dari system yang digunakan untuk mengontrol sifat-sifat lumpur, misalnya dalam dispersi (menyebarkan partikel-partikel clay) atau flokolasi (pengumpulan partikel-partikel clay), menrunkan viskositas, mengurangi water lose. Efek dari pemberian bahan additive ini adalah untuk peng „koloid‟ an clay yang bersangkutan. Zat-zat kimia yang mendispersi (menurunkan viskositas/mengencerkan) contohnya adalah: Quebracho, phosphate, sodium tannate, surfactant, dll. Sedangkan zat-zat kimia untuk menaikkan viskositas, contohnya adalah : C.M.C, starch, dan beberapa senyawa polimer



Fluida Pemboran


Lumpur Pemboran

Lumpur pemboran diperkenalkan pertama kali dalam pemboran putar pada sekitar awal tahun 1900. Pada mulanya orang hanya menggunakan air untuk mengangkat serbuk hasil pemboran (cutting) secara kontinyu. Kemudian dengan berkembangnya teknologi pemboran, lumpur mulai digunakan dan fungsi lumpur menjadi semakin komplek. Seangkan untuk memperbaiki sifat-sifat lumpur tersebut, saat ini banyak ditambahkan bahan-bahan kimia (sebagai bahan additive).

Lumpur pemboran merupakan faktor yang sangat penting dalam menjalankan sebuah operasi pemboran. Hal ini sangat penting karena akan mempengaruhi kelancaran, kecepatan pemboran, efisiensi, keselamatan dan pembiayaan pemboran tersebut.
Dalam kegiatan pemboran ada beberapa parameter yang terdapat di
dalam lumpur bor yang perlu di analisis. Diantaranya adalah:
1. Pengaruh penambahan zat additive di dalam lumpur bor
2. Adanya kontaminasi pada lumpur pemboran
3. Densitas
4. Viskositas
5. Gel Strength
6. Kadar minyak
7. Kadar padatan
8. Filtrate loss
9. Ketebalan mud cake
10. Komposisi kimia
11. Kapasitas tukar kation

Teknik Pemboran Dengan Metode Rotary Drilling


Metode Rotary Drilling
Teknik pemboran dengan metode Rotary Drilling dapat
dikelompokkan kedalam 4 (empat) metode yaitu:

1. Metode putar dengan sistem sirkulasi langsung (Direct CirculationRotary Methods)

Prinsip kerja dari teknik pemboran ini adalah memanfaatkan momen putar yang berasal dari drill string (stang bor) yang dihubungkan dengan prime over melalui gear reduction system.
Pada Down Hole system yang ujungnya dipasang mata bor (drilling bit) akan berputar di dalam lubang bor dan mendapat tekanan dari drill rod. Akibat gesekan dan tumbukan mata bor dengan batuan, akan terbentuk potongan-potongan batuan yang berukuran kecil yang disebut dengan serbuk pemboran atau cutting.
Lumpur bor yang terdiri dari materials bentonite water base atau oil base, keluar melalui mata bor dan selanjutnya ke permukaan melalui annulus lubang bor sambil membawa partikel hasil pemboran (cutting) ke permukaan.
Sesampainya di Mud DrillingTank, partikel yang di bawa dari dasar sumur akan diendapkan, dan selanjutnya lumpur bor dimasukkan lagi melalui pompa Lumpur (mud pump).

2. Metode Putar Dengan Udara (Air Rotary Methods)

Prinsip kerja dari Air Rotary Methods hampir sama dengan metode Direct Rotary Methods. Bedanya hanya terletak pada fungsi lumpur pemborannya. Pada metode Direct Rotary Methods lumpur bor diganti dengan angin dari kompresor. Metode ini biasanya dilakukan untuk pengeboran pada batuan keras atau pada pekerjaan pemboran untuk proses peledakan dinamit atau pada pekerjaan pertambangan.

3. Metode Tumbuk Dengan Putaran Udara (Air Rotary Percussion Methods)

Metode ini merupakan kombinasi dari Air Rotary Methods dengan teknik percussion. Untuk mengangkat drill cutting dari dalam lubang bor ke permukaan mengunakan tekanan angin dari kompresor. Sedangkan untuk menumbuk batuan pada saat pemboran menggunakan pneumatic hammer yang berputar dengan jumlah impact antara 10 – 15 tumbukan per detik.

4. Metode Putar Dengan Sirkulasi Terbalik (Reverse Circulation Rotary Methods)

Metode ini sama dengan metode direct rotary. Metode ini khusus digunakan untuk pengeboran dengan diameter besar minimum 40– 1,8 meter dengan kondisi batuan yang unconsolidated. Degan metoda ini, Lumpur dari annulus lubang bor dipompa keluar dengan bantuan pompa lain sehingga permukaan lumpur selalu berada di level permukaan tanah. Dengan demikian, kemungkinan terjadi runtuhan pada dinding sumur bor pada saat pemboran dilakukan akan dapat diperkecil. Kapasitas pemompaan (kecepatan aliran di dalam pipa stang bor harus sekitar 2 m/sec.).

Saturday, April 12, 2014

Pemboran Putar (Rotary Drilling)

Teknik pemboran dengan metode Rotary Drilling dapat  dikelompokkan kedalam 4 (empat) metode yaitu: 

1. Metode Putar Dengan Sistem Sirkulasi Langsung (Direct Circulation Rotary Methods)
   Prinsip kerja dari teknik pemboran ini adalah memanfaatkan momen putar yang berasal dari drill string (stang bor) yang dihubungkan dengan prime over melalui gear reduction system. Pada Down Hole system yang ujungnya dipasang mata bor (drilling bit) akan berputar di dalam lubang bor dan mendapat tekanan dari drill rod. Akibat gesekan dan tumbukan mata bor dengan batuan, akan terbentuk potongan-potongan batuan yang berukuran kecil yang disebut dengan serbuk pemboran atau cutting
   Lumpur bor yang terdiri dari materials bentonite water base atau oil base, keluar melalui mata bor dan selanjutnya ke permukaan melalui annulus lubang bor sambil membawa partikel hasil pemboran (cutting) ke permukaan. Sesampainya di Mud DrillingTank, partikel yang di bawa dari dasar sumur akan diendapkan, dan selanjutnya lumpur bor dimasukkan lagi melalui pompa Lumpur (mud pump).

2. Metode Putar Dengan Udara (Air Rotary Methods)
   Prinsip kerja dari Air Rotary Methods hampir sama dengan metode Direct Rotary Methods. Bedanya hanya terletak pada fungsi lumpur pemborannya. Pada metode Direct Rotary Methods lumpur bor
diganti dengan angin dari kompresor. Metode ini biasanya dilakukan untuk pengeboran pada batuan keras atau pada pekerjaan pemboran untuk proses peledakan dinamit atau pada pekerjaan
pertambangan.

3. Metode Tumbuk Dengan Putaran Udara (Air Rotary Percussion Methods)
    Metode ini merupakan kombinasi dari Air Rotary Methods dengan teknik percussion. Untuk mengangkat drill cutting dari dalam lubang bor ke permukaan mengunakan tekanan angin dari kompresor.
Sedangkan untuk menumbuk batuan pada saat pemboran menggunakan pneumatic hammer yang berputar dengan jumlah impact antara 10 – 15 tumbukan per detik. 

4. Metode Putar Dengan Sirkulasi Terbalik (Reverse Circulation Rotary Methods)
    Metode ini sama dengan metode direct rotary. Metode ini khusus digunakan untuk pengeboran dengan diameter besar minimum 40 – 1,8 meter dengan kondisi batuan yang unconsolidated. Degan metoda ini, Lumpur dari annulus lubang bor dipompa keluar dengan bantuan pompa lain sehingga permukaan lumpur selalu berada di level permukaan tanah. Dengan demikian, kemungkinan terjadi runtuhan pada dinding sumur bor pada saat pemboran dilakukan akan dapat diperkecil. Kapasitas pemompaan (kecepatan
aliran di dalam pipa stang bor harus sekitar 2 m/sec.).

Metoda Pemboran tumbuk (Cable Tool Drilling atau Percussive Drilling)

Metoda Pemboran tumbuk (Cable Tool Drilling atau Percussive Drilling)
Dioperasikan dengan cara mengangkat dan menjatuhkan alat bor secara berulang-ulang ke dlam lubang bor sehingga lubang bor terbentuk akibat mekanisme tumbukan dan beban rangkaian bor


Keunggulan mesin bor tumbuk dibandingkan dengan mesin bor putar antara lain:
1. Lebih ekonomis (Harga murah, biaya operasi rendah, biaya transportasi murah dan persiapan rig dapat dilakukan dengan cepat
2. Menghasilkan contoh pemboran yang lebih baik
3. Lebih mempermudah pengenalan lokasi
4. Tanpa sistem sirkulasi
5. Kemungkinan kontaminasi karena proses pemboran relatif kecil 

Sedangkan keterbatasan mesin bor tumbuk dibandingkan dengan mesin bor putar antara lain:
1. ROP (Rate of Pnetration/laju pemboran) sangat rendah 
2. Sling cable tool sering putus

Teknik Pemboran Dengan Fluida

Sebagian besar pengeboran menggunakan bantuan fluida untuk penetrasi lapisan –lapisan batuan, penanganan cutting, pengambilan sampel, menjaga stabilitas bore hole dan untuk mendinginkan mata bor (drilling bit).
Contoh aplikasi metode pemboran berdasarkan mekanismenya,  metode pemboran dengan fluida dapat dibagi menjadi:
1.Metode pemboran tumbuk(Cable Tool Drilling atau Percussive Drilling)
2.Pemboran putar(Rotary Drilling)
3.Bo rputar hidrolik(Hydraulic Rotary)

Klasifikasi Metoda Pemboran

Dengan semakin pesatnya perkembangan dibidang Industri pertambangan dan Konstruksi, maka teknik dan metode pemboran semakin beragam. Oleh karena itu teknik dan metode pemboran disesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai.

Saat ini berkembang beberapa metode pemboran:
1.   Metode Pemboran Auger, Hollow Stem Auger, Boring with Earth Auger dan Hand Auger
2.   Metode Cable Tool drilling.
3.   Metode Percussion rotary air blast drilling (RAB)
4.   Metode Direct Rotary Drilling.
5.   Metode Reverse circulation (RC) Rotary drilling.
6.   Metode Air Drilling System
7.   Metode In-verse Drilling.
8.   Metode Dual-WallReverse Circulation Rotary 9. Metode Drill-Through Casing Driver
9.   Metode Drill-Through Casing Driver
10. Metode Jet Drilling
11. Metode Hydraulic-Percussion
12. Metode Driven Well
13. Metode California Stovepipe
14. Metode Air core drilling
15. Metode Diamond core drilling
16. Metode Direct push rigs
17. Metode Sonic (vibratory) drilling

Jenis Jenis Mesin Bor

Mesin Bor yang digunakan untuk keperluan pekerjaan pemboran, semua peralatannya sudah dirangkai menjadi satu kesatuan yang disebut drilling rig. Sebuah drilling rig dirancang sesuai dengan kemapuannya, sudah mempunyai spesifikasi tertentu. Seperti besarnya torque maksimum yang dapat dihasilkan (Newton-M), daya angkat (Lifting Forces) dalam ton, seperti :

Truck Mounted 
Truck Mounted merupakan suatu sistim bor yang telah dibangun di atas kenderaan truk dan setiap bagiannya tidak dapat diubah-ubah atau dipindahkan dari kenderaan truk tersebut. Sistem mesin bor seperti ini biasanya dipergunakan untuk daerah-daerah yang dapat dicapai oleh kenderaan berat, karena jenis inimempunyai berat rata-rata diatas 15 ton. Sistem bor seperti ini tidak dapat dipergunakan di daerah yang tidak mempunyai akses jalan yang baik.

Keutamaan pemakaian peralatan mesin bor jenis Truck Mounted ini adalah : 
1. Cepat dalam Rigging Up/Rigging Down Work 
2. Tidak membutuhkan tenaga operator yang banyak. 
3. Cepat dalam mobilisasi maupun demobilisasi. 
Sedangkan kekurangannya adalah: 
1. Investasi sangat mahal (± 500.000 US$) 
2. Biaya operasional pada remote area sangat besar. Terutama untuk membuat fasilitas jalan. 3. Biaya operasional tinggi.

Track Mounted 
Sistem pemboran jenis ini biasanya dipakai untuk daerah-daerah yang terisolasi ataupun belum ada existing road. Biasanya dipakai dalam pemboran eksplorasi di lokasi- lokasi rencana pembangunan infrastruktur, seperti ladang minyak, pembangunan komplek industri perminyakan dan lain-lain. Sistem bor seperti ini jarang dipergunakan, karena memerlukan pengadaan alat dan biaya pengangkutan yang sangat besar.



Rotary Truck Mounted 
Sistem pemboran jenis ini menggunakan Kelly sebagai pasak pemutar di rotary system-nya. Down Hole system turun dengan beban beratnya sendiri dan banyak dipergunakan di dalam pengeboran minyak bumi 





Skid Mounted
Skid mounted adalah suatu jenis mesin bor yang sangat fleksibel penggunannya dan dapat digunakan baik untuk eksplorasi mineral, sumur bor panas bumi, sumur bor air, pekerjaan pondasi teknik sipil dan lain-lainnya. Selain itu, mesin bor jenis ini penggunaannya dapat dikombinasi baik di atas truck ataupun track, ataupun d iatas bantalan rel sehingga dapat berjalan dengan sendirinya di medan sulit yang tidak

Aplikasi Pekerjaan Pengeboran

Dengan perkembangan teknologi, baik dari segi teknis maupun aplikasinya, kegiatan pemboranpun ikut berkembang dan setidaknya telah di pergunakan ke dalam 8 (delapan) sektor industri.

Geoteknik 
Pengeboran Geoteknik bertujuan untuk menentukan karakteristik tanah dan batuan . Dalam beberapa hal digunakan untuk memperoleh informasi tentang kondisi alami dan posisi muka air tanah.

Konstruksi
Pemboran konstruksi digunakan untuk menentukan batas antara batuan dasar (basemaent) dan batuan di atasnya yang umumnya sudah mengalami deformasi pelapukan

Eksplorasi Mineral 
Untuk mencari cebakan mineral, menentukan kualitas mineral secara ekonomis, Eksplorasi tubuh bijih, informasi stratigrafi, survey seismik, verifikasi interpretasi geofisika dan geokimia, kontrol kadar bijih, perhitungan cadangan bijih, deskripsi tubuh bijih (penyebaran, bentuk, butir penyusun, dll) 

Seismik
Pengeboran dalam kegiatan survey seismik berguna untuk menempatkan bahan peledak sebagai sumber getaran dalam seismik refraksi maupun refleksi.

Peledakan 
Digunakan untuk menempatkan bahan peledak sebagai salah satu proses untuk memberaikan/menghancurkan material yang kompak

Sumur Airtanah 
Pengeboran dalam pembuatan sumur airtanah, brtujuan untuk membuat lubang untuk mendapatkan posisi akifer dan memproduksi airtanah, mengetahui posisi muka airtanah, memonitor sumur produksi, smur injeksi, sumur dewatering di dalam tambang dan konstruksi. 

Lingkungan 
Pemboran lingkungan terdiri dari pengeboran geoteknik dan sumur airtanah untuk memonitor kualitas airtanah dan membantu dalam kontrol/remediasi polusi airtanah.


Minyak dan Gas 
Pemboran dalam industri minyak dan gas bertujuan untuk eksplorasi minyak dan gas baik onshore maupun di offshore, sumur injeksi dan sumur produksi minyak dan gas.

Sejarah Perkembanagn Teknologi Pemboran


Bangsa Cina sudah mengembangkan teknik Pemboran dengan metodaCable tool, sebelum tahun1898. Menggunakan peralatan seadanya pada zamannya. Dan pada masa itu bangsa Cina sudah berhasil melakukan pemboran dalam (deep well) Instalasi pemboran dalam (deep well) atau pemipaan (piping) di Cina dengan menggunakan percussion device dan dibantu dengan tenaga hewan (Kudaataukerbau). Denganmetodeini,  untuk mencapai hingga kedalaman 1000 m, Bangsa Cina membutuhkan waktu selama 2 –5 tahun.
Dengan berkembangnya pemikiran, orang mencoba mencari metode untuk mempermudah peruses pengeboran. Salah satu metode yang ditemukan saat itu adalah dengan mengguakan pesawat sederhana atau tuas.Pada tahun1895,  teknologi pemboran sudah mulai berkembang pesat di Eropa. C.A. (Charley) Jenks  pertamakali membentuk “Jenks Water Well Service” di West Edmond,  dimana proses pemboran dengan metoda Cable tool, menggunakan tenaga mesian uap sebagai penggerak dalam proses pemboran
  • Pada tahun 1908, Charley terus mengembang metode pemboran metode cable  tool dengan kombinasi metode Steam Driven drill diOklahoma, AmerikaSerikat.
  • Pada tahun1942, Charley mengembangkan model mesin bor dengan sistem cable tool rig diStillwater Oklahoma dan dipakai pertamakali untuk kepentingan ilmu pengetahuan pada sebuah perguruan tinggi di dekat AmerikaSerikat.
  • Tahun 1948, untuk memudahkan mobilisasi mesin bor, Ted dan Leslie mengembangkan mesin bor dengan model truck mounted. Model mesin bor ini dikenal dengan nama Sullivan mud rotary.
  • Pada tahun 1949, dikembangkan model mesin bor yang diber nama Ft. Worth Spudder cable tool rig. Mesin bor ini digunakan south of Guthrie, Oklahoma
  • Padatahun 1955, Mesin bor dengan system Cable tool dikembangkan dengan ukuran dan kapasitas yang lebih besar yang diberinama Homebuilt drilling rig yang dibuatolehC.A.'s son Albert. diGuthrie, Oklahoma.
  • Hingga tahun 1970, mesin bor dengan sistem cable tool terus dikembangkan dan diberinama Mayhew 1000 mud rotary.



Sejarah Pertambangan Dunia


Pertambangan adalah suatu kegiatan pencarian, penyelidikan, pengambilan, pengolahan dan penjualan mineral – mineral yan memiliki arti ekonomis. 

Sejak awal peradaban, orang telah menggunakan batu, keramik dan, kemudian, logam yang ditemukan pada atau di dekat permukaan bumi. Material – material ini digunakan sebagai bahan untuk membuat peralatan – peralatan senjata.

Pada jaman mesir kuno telah dilakukan penambangan perunggu (malachite) di madii, pada awalnya orang mesir menggunakan perunggu sebagai hiasan dan tembikar, kemudian antara 2613 dan 2494 SM ekspedisi keluar mesir dilakukan untuk mencari dan mengamankan mineral dan sumberdaya lainnya yang tidak tedapat di mesir

Pertambangan di Mesir bermula pada awal dinasti, dan salah satu yang terbesar dan terluas adalah tambang emas Nubia. Seorang penulis Yunani Diodorus Siculus menjelaskan bahwa fire-setting adalah salah satu metode yang digunakan untuk memecah batu keras yang mengandung emas di Nubia. 

Ancient Roman development of the Dolaucothi Gold Mines, Wales.

Pertambangan di Eropa memiliki sejarah yang sangat panjang, salah satu contohnya yaitu tambang perak di Laurium, tambang ini membantu pengembangan kota Athena, namun penambangan skala besar dilakukan pada jaman romawi, bangsa romawi menggunakan air dengan volume yang besar ke area penambangan dengan menggunakan saluran – saluran air. Air digunakan untuk berbagai keperluan, salah satunya yaitu digunakan untuk menghilangkan kotoran dan batuan overburden yang disebut dengan hidrolik mining, air juga digunakan untuk mencuci dan menjalankan mesin sederhana yang memisahkan dan menghacurkan bijih.

Pertambangan sebagai sebuah industri mengalami perubahan dramatis di Eropa abad pertengahan. Industri pertambangan di awal Abad Pertengahan difokuskan pada ekstraksi tembaga dan besi. Logam mulia lainnya juga digunakan untuk penyepuhan atau pembuatan koin. Awalnya, logam banyak diperoleh melalui pertambangan terbuka, dan bijih yang diekstraksi diperoleh dari kedalaman dangkal, daripada melakukan penggalian lubang untuk tambang dalam. Sekitar abad ke-14, permintaan untuk senjata, baju besi, sanggurdi, dan sepatu kuda sangat meningkatkan permintaan untuk besi. Ksatria Abad Pertengahan misalnya menggunakan 100 pounds baju besi atau rantai besi di samping pedang, tombak dan senjata lainnya. ketergantungan besar pada besi untuk tujuan militer. Membantu untuk memacu produksi dan ekstraksi besi meningkat.

Tambang prasejarah di amerika utara terdapat di sepanjang danau superior, suku Indian mulai menggunakan tembaga setidaknya dimulai sekitar 5000 tahun yang lalu, peralatan tembaga, mata panah, dan artefak lainnya sebagai barang asli suatu jaringan perdagangan telah ditemukan.

Hingga saat ini pertambangan masih terus berlanjut dan berkembang di seluruh dunia, mulai dari timur hingga barat dan dari utara ke selatan semua manusia membutuhkan material – material hasil penambangan untuk kehidupan mereka inilah yang mendorong industry pertambangan semakin maju dan berkembang.

Monday, April 7, 2014

Batuan Beku atau Batuan Igneus


Batuan beku atau batuan igneus (dari Bahasa Latin: ignis, "api") adalah jenis batuan yang terbentuk dari magma yang mendingin dan mengeras, dengan atau tanpa proses kristalisasi, baik di bawah permukaan sebagai batuan intrusif (plutonik) maupun di atas permukaan sebagai batuan ekstrusif (vulkanik). Magma ini dapat berasal dari batuan setengah cair ataupun batuan yang sudah ada, baik di mantel ataupun kerak bumi. Umumnya, proses pelelehan terjadi oleh salah satu dari proses-proses berikut: kenaikan temperatur, penurunan tekanan, atau perubahan komposisi. Lebih dari 700 tipe batuan beku telah berhasil dideskripsikan, sebagian besar terbentuk di bawah permukaan kerak bumi.

Menurut para ahli seperti Turner dan Verhoogen (1960), F. F Groun (1947), Takeda (1970), magma didefinisikan sebagai cairan silikat kental yang pijar terbentuk secara alamiah, bertemperatur tinggi antara 1.500–2.5000C dan bersifat mobile (dapat bergerak) serta terdapat pada kerak bumi bagian bawah. Dalam magma tersebut terdapat beberapa bahan yang larut, bersifat volatile (air, CO2, chlorine, fluorine, iron, sulphur, dan lain-lain) yang merupakan penyebab mobilitas magma, dan non-volatile (non-gas) yang merupakan pembentuk mineral yang lazim dijumpai dalam batuan beku.

Pada saat magma mengalami penurunan suhu akibat perjalanan ke permukaan bumi, maka mineral-mineral akan terbentuk. Peristiwa tersebut dikenal dengan peristiwa penghabluran. Berdasarkan penghabluran mineral-mineral silikat (magma), oleh NL. Bowen disusun suatu seri yang dikenal dengan Bowen’s Reaction Series.

Dalam mengidentifikasi batuan beku, sangat perlu sekali mengetahui karakteristik batuan beku yang meliputi sifat fisik dan komposisi mineral batuan beku. Dalam membicarakan masalah sifat fisik batuan beku tidak akan lepas dari

Batuan metamorf


Batuan metamorf (atau batuan malihan) adalah salah satu kelompok utama batuan yang merupakan hasil transformasi atau ubahan dari suatu tipe batuan yang telah ada sebelumnya, protolith, oleh suatu proses yang disebut metamorfisme, yang berarti "perubahan bentuk". Protolith yang dikenai panas (lebih besar dari 150 °Celsius) dan tekanan ekstrem akan mengalami perubahan fisika dan/atau kimia yang besar. Protolith dapat berupa batuan sedimen, batuan beku, atau batuan metamorf lain yang lebih tua. Beberapa contoh batuan metamorf adalah gneis, batu sabak, batu marmer, dan skist.

Batuan metamorf menyusun sebagian besar dari kerak Bumi dan digolongkan berdasarkan tekstur dan dari susunan kimia dan mineral (fasies metamorf) Mereka terbentuk jauh dibawah permukaan bumi oleh tegasan yang besar dari batuan diatasnya serta tekanan dan suhu tinggi. Mereka juga terbentuk oleh intrusi batu lebur, disebut magma, ke dalam batuan padat dan terbentuk terutama pada kontak antara magma dan batuan yang bersuhu tinggi.

Penelitian batuan metamorf (saat ini tersingkap di permukaan bumi akibat erosi dan pengangkatan) memberikan kita informasi yang sangat berharga mengenai suhu dan tekanan yang terjadi jauh di dalam permukaan bumi.

Batuan metamorf dapat dibedakan menjadi berikut ini.

a. Batuan Metamorf Kontak

Batuan yang mengalami metamorfose sebagai akibat dari adanya suhu yang sangat tinggi (sebagai akibat dari aktivitas magma). Adanya suhu yang sangat tinggi menyebabkan terjadinya perubahan bentuk maupun warna batuan. Contohnya batu kapur (gamping) menjadi marmer.

b. Batuan Metamorf Dinamo

Batuan yang mengalami metamorfose sebagai akibat dari adanya tekanan yang tinggi (berasal dari tenaga endogen) dalam waktu yang lama. Contohnya batu lumpur (mud stone) menjzdi batu tulis (slate). Batuan ini banyak dijumpai di daerah patahan atau lipatan.

c. Batuan Metamorf Kontak Pneumatolistis

Batuan yang mengalami metamorfose sebagai akibat dari adanya pengaruh gas-gas yang ada pada magma. Contohnya kuarsa dengan gas fluorium berubah menjadi topas.

Batuan sedimen

Batuan endapan atau batuan sedimen adalah salah satu dari tiga kelompok utama batuan (bersama dengan batuan beku dan batuan metamorfosis) yang terbentuk melalui tiga cara utama: pelapukan batuan lain (clastic); pengendapan (deposition) karena aktivitas biogenik; dan pengendapan (precipitation) dari larutan. Jenis batuan umum seperti batu kapur, batu pasir, dan lempung, termasuk dalam batuan endapan. Batuan endapan meliputi 75% dari permukaan bumi.

Batuan sedimen (batuan endapan) adalah batuan yang terjadi akibat pengendapan materi hasil erosi. Sekitar 80% permukaan benua tertutup oleh batuan sedimen. Materi hasil erosi terdiri atas berbagai jenis partikel yaitu ada yang halus, kasar, berat dan ada juga yang ringan. Cara pengangkutannya pun bermacam-macam seperti terdorong (traction), terbawa secara melompat-lompat (saltion), terbawa dalam bentuk suspensi, dan ada pula yang larut (salution). Klasifikasi lebiih lanjut seperti berikut:

Berdasarkan proses pengendapannya:
1. batuan sedimen klastik (dari pecahan pecahan batuan sebelumnya)
2. batuan sedimen kimiawi (dari proses kimia)
3. batuan sedimen organik (pengedapan dari bahan organik)

Berdasarkan tenaga alam yang mengangkut
1. batuan sedimen aerik (udara)
2. batuan sedimen aquatik (air sungai)
3. batuan sedimen marin (laut)
4. batuan sedimen glastik (gletser)

Berdasarkan tempat endapannya
1. batuan sedimen limnik (rawa-)
2. batuan sedimen fluvial (sungai)
3. batuan sedimen marine (laut)
4. batuan sedimen teistrik (darat)

Penamaan batuan sedimen biasanya berdasarkan besar butir penyusun batuan tersebut. Penamaan tersebut adalah: breksi, konglomerat, batupasir, batulanau, batulempung.

- Breksi adalah batuan sedimen dengan ukuran butir lebih besar dari 2 mm dengan bentuk butitan yang bersudut
- Konglomerat adalah batuan sedimen dengan ukuran butir lebih besar dari 2 mm dengan bentuk butiran yang membudar
- Batu pasir adalah batuan sedimen dengan ukuran butir antara 2 mm sampai 1/16 mm
- Batu lanau adalah batuan sedimen dengan ukuran butir antara 1/16 mm sampai 1/256 mm
- Batu lempung adalah batuan sedimen dengan ukuran butir lebih kecil dari 1/256 mm

Sedimentasi


Proses-proses sedimentasi tidak saja menghasilkan batuan-batuan sedimen, tetapi dapat juga menghasilkan deposit-deposit mineral berharga seperti mangan, besi, tembaga, batubara, karbonat, tanah lempung, belerang, lempung pemurni (fuller’s earth atau bleekarde), lempung bentonit, tanah diatome, dan secara tidak langsung deposit vanadium-uranium. Meskipun demikian deposit-deposit tersebut sebenarnya juga batuan sedimen, yang kebetulan karena sifat-sifat kimiawi dan fisikanya kemudian menjadi sangat berharga. Karenanya, cara terbentuknya juga sama dengan cara terbentuknya batuan sedimen, harus ada batuan yang bertindak sebagai sumber (asal), harus ada suatu proses yang mengangkut dan mengumpulkan bahan-bahan hasil rombakan batuan asal, dan akhirnya pengendapan hasil rombakan tersebut pada suatu cekungan pengendapan tertentu. Kemudian mungkin saja dapat terjadi alterasi kimiawi ataupun kompaksi dan perubahan-perubahan lain pada endapan tersebut. Jadi dalam proses di atas jelaslah bahwa batuan asal haruslah mengalami pelapukan terlebih dahulu, baik pelapukan fisik maupun pelapukan kimia, sebelum diangkut dan diendapkan ditempat lain.

Jenis batuan asal, cara pengangkutannya, dan lingkungan pengendapan dimana bahan-bahan tersebut akan diendapkan kembali, pada umumnya akan serupa bagi satu jenis bahan tertentu.
Termasuk dalam proses sedimentasi ini pengendapan deposit mineral akibat penguapan (evaporation). Proses penguapan ini paling baik terjadi di daerah beriklim panas dan kering.
Air tanah, air danau atau air pada daerah laut yang tertutup seperti laguna, dapat menghasilkan deposit-deposit mineral sebagai akibat proses penguapan. Juga sumber-sumber air panas dapat menghasilkan deposit serupa.

Deposit-deposti mineral yang terjadi oleh proses ini adalah garam dapur dari penguapan air laut atau air tanah yang asin, gipsum dan anhidrit berasal dari penguapan daerah lagun atau kadang-kadang dapat juga dari daerah rawa-rawa, garam-garam kalium dari penguapan air laut, dan dari penguapan air tanah dapat diendapkan garam-garam natrium karbonat, kalsium karbonat, garam nitrat dan natrium sulfat.

Melihat proses kejadiannya, maka hampir semua deposit mineral sebagai akibat penguapan ini berbentuk tipis dan meluas, jarang dijumpai dalam bentuk yang tebal. Misalnya endapan gipsum, biasanya tebalnya antara 1 sampai 2 meter saja, kecuali kalau pada saat terjadinya pengendapan disertai pula dengan penurunan dasar cekungan pengendapan secara perlahan-lahan, maka dalam hal ini mungkin saja endapan gipsumna dijumpai dalam keadaan agak tebal.